Kamis, 16 Mei 2013

Kisah Tragis Tragedi Kerusuhan Mei 1998


Medio 13 Mei 1998. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, Eten Karyana (32) bergegas bangun dari tempat tidurnya dan langsung beranjak mengambil handuk menuju kamar mandi. Dia hampir saja telat berangkat mengajar di sebuah lembaga pendidikan.

Kebetulan, ibunda Eten, Ruyati Darwin (65), juga hendak mandi. Mengingat anaknya harus mencari nafkah, dia mengalah dan mempersilakan putra sulungnya itu untuk menggunakan kamar mandi lebih dulu.

Obrolan pagi itu merupakan pertemuan terakhir Eten dengan seluruh anggota keluarganya. Sore, saat kembali ke rumah, keluarga syok, lelaki yang menjadi tulang punggung keluarga itu kembali dalam wujud serpihan abu dalam kantong plastik dan hanya menyisakan sebuah Kartu Tanda Penduduk serta dompet yang terbakar.

"Saya tidak terima, dia tulang punggung keluarga," kata Ruyati saat berbincang dengan merdeka.com di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat kemarin.

Ruyati langsung membuka kacamata frame hitam yang dia pakai, lalu air mata berderai membasahi pipi keriputnya. Buru-buru, tangan kirinya membasuh tetesan itu. Sambil menarik nafas, Ruyati menceritakan rangkaian demi rangkaian kejadian yang diterima anaknya saat kota Jakarta rusuh 15 tahun silam. Semua sisi kota penuh dengan pembakaran dan penjarahan.

Saat itu sekira pukul 13.00 WIB, Eten baru saja pulang mengajar. Ruyati belum sempat melihat kakak dari Tata Subrata, Adi Aswadi, Dian Mulyaningsih, Lilis Darminingsih serta Cucu Ruyana itu pulang.

Eten merupakan anak pertama dari pasangan Erwin Darwin (75) dan Ruyati Darwin (65). Eten juga tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia. Sampai di rumah dia langsung mengganti kemeja dengan kaos, lalu pergi keluar rumah.

Menurut rekannya kata Ruyati, Eten saat itu hendak menolong anak kecil yang terjebak dalam kobaran api Plaza Yogya di Jalan I Gusti Ngurahrai, Klender, Jakarta Timur. Anak itu berteriak meminta pertolongan di tengah ratusan orang yang asik menjarah barang-barang di dalam mal.

Namun saat masuk kedalam, Eten justru tidak bisa keluar. Dia terbakar bersama sekitar 400 korban lainnya yang juga ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Sekujur tubuh korban terbakar dan tidak dikenali. "Dia melihat anak kecil terjebak dalam kobaran api dan hendak ditolong," ujarnya.

Hanya beberapa menit setelahnya, semua mata menatap tayangan langsung stasiun televisi. Salah satunya yang menayangkan kerusuhan Mei di Jakarta itu adalah ANTV lewat program berita Cakrawala.

Sorotan kamera di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM) membuat Ruyati terbelalak dan langsung teriak histeris. Sebuah Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan kondisi utuh atas nama Eten disebut sebagai salah satu korban terbakar di Plaza Yogya. Klender.

Erwin Darwin, ayah Eten tak kuat menahan syok, dia pingsan dan tidak sadarkan diri. Dengan pikiran kalut dan masih tidak percaya apa yang terjadi, Ruyati menyuruh menantunya mengambil jasad anaknya ke RSCM. "Saya nonton, jelas banget KTP anak saya ada di TV," tuturnya.

Dari sekitar 400 korban, kata Ruyati, 8 di antaranya diketahui identitasnya. Sedangkan 392 orang tidak bisa dikenali dan diidentifikasi siapa para korban tragedi kemanusiaan itu. Dua orang korban, Madi dan Yadi merupakan satu wilayah dengan Ruyati yang bermukim di Jalan Penggilingan Gg Marzuki No 25 RT 10/RW 01, Cakung, Jakarta Timur.

"Warga Klender ada 60 orang yang kehilangan keluarganya akibat kejadian itu," ujarnya.

Menurut saksi mata yang memberikan keterangan kepada Ruyati, saat kejadian pilu yang memukul keluarganya hingga saat ini, kala itu ada sekelompok orang memprovokasi warga untuk masuk kedalam Mal Yogya.

Mereka lalu menyuruh mengambil barang-barang yang ada di dalam Mal tersebut. Namun saat warga yang terprovokasi masuk, sekelompok orang itu menyiramkan bensin kemudian menyulutnya dengan korek api.

15 tahun sudah kenangan itu tidak bisa hilang dalam ingatan Ruyati dan keluarga. Upaya mencari keadilan terus dilakukan. Kejaksaan Agung sudah ratusan kali disambangi untuk mencari keadilan, siapa yang tega menghilangkan anaknya dalam kerusuhan Mei 98.

Ruyati juga tidak terima soal hasil temuan investigasi yang mengatakan bahwa anaknya termasuk korban karena menjarah. Untuk mengenang dan memperingati para korban, Ruyati bersama dengan keluarga korban lain mengadakan acara setiap tahun di lokasi penjarahan dan pembakaran anaknya di Mal Yogya yang kini berubah menjadi Mal Citra setiap tanggal 13 Mei.

Usai aksi damai di Mal Citra, para keluarga korban Mei 98 kemudian berziarah ke Tempat Pemakaman Umum Pondok Rangon, Jakarta Timur. Pemakaman itu merupakan tempat peristirahatan para korban terbakar kerusuhan Mei 98. "Saya sudah ketemu SBY waktu 2008, sampai saat ini tidak ada kejelasan," tuturnya.

sumber : merdeka.com

Cerita seram hantui sisa kerusuhan Mei 98 di Yogya Plaza


Seminggu setelah pembakaran Yogya Plaza yang menewaskan ratusan orang pada Mei 1998 lalu, mulai bermunculan sejumlah peristiwa mistis beredar di masyarakat sekitar. Warga dikejutkan dengan berita penampakan makhluk halus di sekitar pusat perbelanjaan di kawasan Klender, Jakarta Timur itu.

"Katanya seminggu setelah itu, banyak warga yang dengar suara tangisan dari dalam gedung, sama teriakan minta tolong. Bahkan ada juga yang sampai ngelihat mahluk halus," ujar Jhon Hendrik, saksi hidup peristiwa tersebut kepada merdeka.com, Minggu (11/5) malam.

Jhon mengatakan, kondisi di sekitar mal berlantai enam, saat itu terlihat angker. Selain kondisinya gelap, aroma tak sedap masih terus tercium selama hampir satu bulan.

"Serem banget emang, di atas jam 10 itu mobil udah enggak ada yang berani lewat, pedagang juga udah pada enggak berani dagang. Apalagi kalau malam itu, bau mayat itu kecium santer banget," terangnya.

Pria asal Sumatera Utara ini pun menuturkan, dirinya pernah diceritakan oleh salah satu temannya yang sopir metromini 506 jurusan Pondok Kopi-Kampung melayu, yang melintas jalan di depan Yogya Plaza.

"Teman saya cerita, dia bilang di daerah Buaran itu banyak penumpang yang naik, bahkan metromininya langsung penuh. Saat itu dia biasa aja dan tidak ada perasaan apa-apa," ingatnya.

"Nah pas, sampai di Yogya, kok penumpangnya pada turun semua dan masuk ke dalem. Di situ dia mulai ketakutan, saat penumpang udah pada turun semua dia langsung ngebut ketakutan. Terus pas dia minta duit sama kondekturnya itu duit jadi daun semua. Dari situ dia enggak berani narik lagi," tambahnya.

Kesaksian lain diceritakan oleh Yanto, seorang pemuda yang kehilangan sang Ayah dalam peristiwa nahas itu. Yanto mengatakan, saat itu Ayahnya sedang mencarinya untuk mengajak pulang, dan melarangnya untuk menjarah. Namun nahas, ia yang saat itu hanya menonton terkejut ketika mendapatkan kabar ayahnya pergi ke tempat yang sama.

"Bokap gue itu sampai tiga hari belum ketemu juga jenazahnya. Waktu itu siang-siang ada pemulung lagi mulung depan rumah. Pas ketemu gue, dia bilang ada yang nyariin kamu di lantai 3 mal Yogya, posisinya pas di samping tangga jalan," kisahnya.

Mendengar itu, Yanto merasa kebingungan terhadap ucapan pemulung itu. Dia mencoba meyakinkan dengan menemuinya kembali, namun pria itu menghilang. Yanto mengaku, tidak pernah melihat kembali sosok pemulung itu.

"Ya udah, pas itu gue inget bokap. Terus gue pergi ke Yogya, di sana emang udah ada abang gue lagi nyari jenazah bokap. Pas gue bilang sama abang gue, terus dia nyari sama orang yang evakuasi, beneran ada, bokap ketemu di lantai tiga di bawah tumpukan. Cirinya itu jam tangan yang dipakai masih utuh dan enggak kebakar sama sekali," ceritanya.

Kini Lima belas tahun sudah tragedi Mei 98 telah berlalu. Yogya Plaza pun telah dibangun kembali dan bernama Mall Citra Klender. Sempat berembus kabar juga beberapa hari setelah diresmikannya mal itu sempat sepi karena cerita mistis yang menghampiri setiap orang yang berbelanja dikerjai mahluk halus.

sumber : merdeka.com

Beda Aiptu Jailani dan Aiptu LS

Aiptu Jailani
Isu rekening gendut kembali menyasar Korps Bhayangkara. Bila dulu yang diungkap rekening gendut para jenderal, kali ini giliran rekening gendut milik seorang anggota polisi berpangkat rendah, Ajun Inspektur Polisi Satu atau Aiptu berinisial LS.

Polisi itu kini berdinas di Polres Sorong, Provinsi Papua. Kabar yang menyeruak ke publik di dalam rekening Aiptu LS terdapat dana sebesar Rp 1,5 triliun. Nilai yang cukup mencengangkan untuk seorang polisi berpangkat Aiptu.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya, mengatakan, selain berprofesi sebagai anggota kepolisian, Aiptu LS memang dikenal memiliki banyak usaha.

"LS ini diketahui bisnisnya banyak. Ada kayu, bahan bakar minyak dan beberapa usaha lainnya," kata Sumerta kepada merdeka.com, Rabu (15/5).

Namun demikian, sejumlah pihak meragukan legalitas bisnis LS itu. Salah satunya Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Komisioner Kompolnas Hamidah Abdurachman mengatakan, komisi sudah memiliki data awal terkait rekening pribadi milik Aiptu LS.

Dia berjanji akan menyelidiki kasus ini lebih dalam beberapa waktu ke depan. Namun demikian, Hamidah tidak cukup begitu saja percaya akan temuan itu. Kompolnas, kata dia, akan menyelidiki lebih dalam terkait bisnis yang dilakukan oleh Aiptu LS.

"Sekarang ketika dia menjalankan bisnis, pertanyaannya apakah bisnis itu legal? Kalau dia jual beli kayu, BBM, apakah memiliki dokumen-dokumen. Yang kita khawatirkan itu kan bisnisnya ilegal. Kalau uang itu diperoleh dari hasil yang tidak sah, otomatis kan uang itu juga tidak sah," imbuhnya.

Bicara polisi berpangkat Aiptu ini mengingatkan kita pada sosok Aiptu Jailani, Anggota Satlantas Polres Gresik, Jawa Timur yang dikenal sederhana dan jujur. Polisi Jailani hampir dikenal oleh warga Gresik tak kenal kata damai saat menilang pengendara lalu lintas yang tak patuh pada aturan.

Harta polisi ini tentu tak sebanyak Aiptu LS. Bayangkan, setiap bulan dia hanya mendapat jatah uang saku Rp 200 ribu per bulan dari sang istri. Namun demikian dia tak tergoda menambah uang saku dari hasil 86 alias uang damai. Bagi dia aturan tetap harus ditegakkan, agar esok akan lebih baik dari hari ini.

"Semua gaji saya tiap bulan, saya serahkan semuanya ke istri saya. Tiap bulan saya hanya dijatah Rp 200 ribu untuk uang saku sama istri saya," aku pria 44 tahun tanpa menyebut nominal gaji yang dia terima tiap bulan kepada merdeka.com.

Bila jatah uang saku bulanan habis, dia bakal meminta lagi kepada istri. Terkadang, dia melanjutkan, istrinya memberi tambahan uang Rp 100 ribu, atau Rp 200 ribu, tergantung kondisi keuangan bulanan.

"Kalau kebutuhan rumah tangga agak banyak, istri saya memberi Rp 100 ribu saja. Tapi yang pasti, setiap bulan saya mendapat jatah Rp 200 ribu itu," terang bapak dua anak itu.

Dengan jatah uang saku sebesar itu tak melunturkan keimanan Jailani. Dia tidak tergelitik untuk menerima uang damai dari pengendara yang dia tilang karena melanggar rambu-rambu lalu lintas. Sepanjang 2011 lalu, dia mendapat kredit poin tertinggi buku tilang, dengan 2400 surat tilang yang dia tandatangani selama satu tahun.

Jumlah surat tilang tersebut, seluruhnya diambil melalui proses sidang di pengadilan. "Saya hanya menjalankan tugas," kata Polantas kelahiran 10 Agustus 1969 silam di Jombang, Jawa Timur tersebut.

Jailani tinggal di rumah sederhana di Jalan Jaksa Agung Suprapto Gg 6D/23, Gresik. Sementara Aiptu LS, kabarnya memiliki simpanan Rp 1,5 triliun, dengan bisnis bejibun, mulai dari bisnisan kayu hingga bahan bakar.

Meski belum ada data resmi seluruh harta kekayaan Aiptu LS ini, namun kebenaran berita bahwa LS memiliki bisnis banyak yang membenarkan. Itulah perbedaan Aiptu Jailani dan Aiptu LS. Sama-sama berpangkat Aiptu, tapi berbeda isi rekening.

sumber : merdeka.com

Setelah Klewang, polisi buru geng motor cewek Sincan


Setelah menangkap pentolan Geng Motor Ketua Besar Klewang, kini Polresta Pekanbaru membidik geng motor cewek dengan nama kelompoknya Sincan.

"Saat ini memang baru geng motor cowoknya. Dan untuk geng motor cewek masih kita buru. Seorang anggota geng motor inisial SP dari kelompok Sincan masih kita cari," kata Kapolresta Pekanbaru, Kombes Adang Ginanjar, Rabu (15/5) kepada merdeka.com di Pekanbaru.

Menurut Adang, inisial SP itu diduga ikut dalam aksi brutal yang dilakukan geng motor. Geng motor cewek ini juga ikut terlibat dalam aksi pengrusakan dan perampasan.

"Satu orang ini paling kita cari. Jika tertangkap, dari sana akan kita ketahui siapa lagi kelompok Sincan lainnya yang terlibat dalam berbagai aksi brutal mereka," kata Adang.

Beberapa waktu lalu, jajaran Polresta Pekanbaru, telah menangkap si jenderal Geng Motor Klewang. Mereka terlibat dalam aksi pemerkosaan seorang ABG serta pengrusakan sebuah warnet dan kejahatan-kejahatan lainnya.

sumber : merdeka.com

Di zaman Petrus, Klewang sudah ditembak dan dikarungi


Rakyat Indonesia kini dibuat terperangah oleh aksi Klewang (57). Dia dikenal sebagai raja geng motor brutal di Pekanbaru.

Aksi-aksi kriminal yang dilakukan Klewang dan kelompoknya sangat meresahkan. Dia merampok, merusak, memukuli orang tidak bersalah. Gilanya lagi, Klewang pernah memerkosa gadis ABG. Seolah-olah menunjukkan kebiadabannya, gadis ini diperkosa di depan ratusan anak buah geng motornya.

Tindakan Klewang di dalam kelompok pun semena-mena. Anggota-anggota wanita geng motor wajib melayani napsu bejat kakek ini.

Mardirianto alias Klewang, mengendalikan ratusan anak-anak remaja dan pelajar berusia 15-16 tahun sebagai geng motor. Kakek tua berwajah garang dan seram ini terkenal kejam dan beringas. Bahkan juga dikenal memiliki ilmu kebal.

Dirinya yang mendoktrin agar anak-anak remaja yang menjadi anggota geng motor untuk bertindak brutal, merusak, merampas dan menganiaya korbannya, serta agar tidak takut dengan petugas polisi yang menangkap mereka.

Awal tahun 1980an, banyak preman berkelakuan seperti Klewang. Mereka berani merampok, memperkosa atau membuat onar di jalan. Para preman ini menguasai pasar, terminal dan jalan raya. Kelakuan mereka membuat rakyat ketakutan.

Maka Presiden Soeharto punya cara khusus membantai para preman yang meresahkan itu. Dalam komando tidak resmi, aparat keamanan bergerak menghabisi para preman.

Mereka menculik preman, kemudian dibunuh dengan cara ditembak atau dijerat tali. Jenazahnya dimasukan karung dan dibuang di keramaian. Para eksekutor ini diberi nama penembak misterius atau petrus. Mendengar namanya saja, para preman bergidik ngeri. Mereka lari tunggang langgang supaya tak dibunuh.

Soeharto mengakui memang petrus dibuat untuk menebar teror pada preman. Dia kesal melihat aksi kejahatan merajalela. Bahkan para penjahat ini berani memperkosa istri di depan suaminya.

"Itu sudah keterlaluan! Apa hal itu mau didiamkan saja? Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment, tindakan tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor! dor! begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan ya, mau tidak mau ditembak. Karena melawan, maka mereka ditembak," kata Soeharto dalam buku biografinya yang ditulis Ramadhan KH dan G Dwipayana.

Lalu untuk shock theraphy, sengaja mayatnya dibuang di keramaian agar jadi tontonan dan membuat preman lain keder.

"Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan ini dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas kemanusiaan itu," beber Soeharto.

Petrus terbukti efektif meredakan kejahatan para preman itu. Dalam sebuah survei, walau melanggar hukum, mayoritas masyarakat mendukung sepak terjang penembak misterius.

Jika hidup di zaman Petrus, tentu Klewang sudah ditembak dan dimasukkan karung.

Komnas HAM mencatat ada 2.000 korban selama petrus gentayangan. Sumber lain menyebut korban petrus mencapai 10.000 orang. Tahun 2012, Komnas HAM menyimpulkan petrus adalah pelanggaran HAM berat.

sumber : merdeka.com

Siswi SMP terlibat geng motor kerap berhubungan intim


Jajaran Satreskrim Polresta Pekanbaru, tidak main-main dalam menumpas geng motor yang meresahkan masyarakat Kota Pekanbaru. Pasca tertangkapnya Mardijo alias Klewang alias "Tuan Besar," pada Senin pagi (13/5) lalu mereka mengejar para anggota geng motor yang tergabung dalam kelompok berjuluk XTC (Exalt To Creativity), ARC (Academy Rush Community) dan AA (Atiet Abang).

Beberapa anggota geng motor itu antara lain ditangkap di sekolah. Pengejaran juga dilanjutkan hingga malam hari ke rumah masing-masing anggota. Dari hasil operasi itu, ada enam orang ditangkap. Beberapa dari mereka terlibat dalam kasus perusakan dan penjarahan warung internet di Jalan Durian dan Jalan Kelapa Sawit.

Dari pengakuan enam pelajar ditangkap, pada Selasa malam (14/5), sekitar pukul 23.15 WIB, anggota Satreskrim Polresta Pekanbaru kembali meringkus seorang anggota geng motor Atiet Abang di rumah siswi Sekolah Menengah Pertama berinisial Y (15 tahun). Y adalah warga Jalan Cipta Karya, Kecamatan Tampan Pekanbaru. Dia adalah seorang pelajar kelas tiga, di salah satu SMPN di Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau.

Menurut informasi didapat, saat penangkapan, orang tua Y, Hendri (46 tahun), sempat keberatan dan tidak percaya anaknya terlibat geng motor saat polisi hendak menangkapnya. Saat penangkapan, Y sempat berteriak histeris dan meyakinkan orang tuanya dia tidak terlibat.

Namun setelah diterangkan, rekan-rekannya sesama pelajar yang terlibat geng motor telah diamankan, Y tertunduk malu dan akhirnya menuruti petugas untuk ikut ke Mapolresta Pekanbaru, buat dimintai keterangan.

Pantauan merdeka.com di kantor Polresta Pekanbaru, Rabu (15/5), Y yang juga anggota geng motor "Atit Abang", berpacaran dengan Jef dan kerap bergabung dengan seluruh anggota lainnya, bersama ketua mereka bernama Klewang alias Mardijo. Dia mengakui ikut bersama Jef saat geng motor itu menyerang dan menjarah warnet "Markas Net" di Jalan Durian, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru.

Sewaktu petugas memeriksa telepon seluler Y, polisi menemukan video porno sesama pelajar dan anggota geng motor tersimpan di dalam kartu memori ponsel-nya. Tak hanya itu, dalam pengakuannya kepada penyidik, Y kerap berhubungan seks bebas dengan para anggota geng motor.

"Saya mengakui menyerahkan keperawanannya dengan Jef. Tapi dia juga melakukan hubungan intim layaknya suami istri dengan Arbi, teman Jef. Sudah sering. Saya melakukannya kadang di bedeng dan di daerah Tarai, Kecamatan Tambang," kata Y sambil terisak.

Y mengatakan, sebelum geng motornya berkeliling kota, biasanya mereka berkumpul di komplek Stadion Utama Riau, atau di dekat SMA Plus Kubang. Dia melanjutkan, biasanya ada sekitar 50 sampai 100 sepeda motor yang ikut konvoi. Beberapa pentolan geng seperti Gery, Via Panger, Yogi, Robi dan lainnya, konvoi ke seputar wilayah Pekanbaru untuk melakukan penyerangan.

Hendri, orang tua Y, kepada wartawan mengatakan jika anaknya memang terlibat dalam geng motor ini, dia akan menyerahkan sepenuhnya proses hukum ke pihak polisi. Dia pun nampak terkejut dengan kejadian itu.

"Saya tak menyangka anak saya bisa terlibat sejauh ini," ujar Hendri dengan wajah lesu.

Hen yang mengaku cuma seorang tukang bangunan, rela menjual sepeda motor dan lahan tanahnya demi menyekolahkan anaknya Y. Dia mengaku malu atas tingkah anaknya itu.

"Ternyata di belakang saya tidak tahunya begini. Malu saya mas," ujar Hendri dengan wajah miris.

Sementara itu, Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Drs. R. Adang Ginanjar S. MM, mengimbau para orang tua untuk mengawasi kegiatan putra-putrinya di luar rumah.

"Diimbau kepada orang tua agar selalu mengawasi putra-putrinya, dan menyalurkan hobi anak-anaknya. Jangan anak-anak dibiarkan bergaul tanpa pengawasan," kata Adang.

sumber : merdeka.com

6 Ritual aneh dalam pergaulan geng motor Klewang


Pentolan geng motor di Pekanbaru Klewang (58) alias ketua besar punya rekam jejak kriminal yang panjang. Menurut Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, Kompol Arief Fajar Satria, Klewang adalah otak dari sejumlah kejahatan yang dilakukan geng motor pimpinannya.

"Klewang terlibat kasus pemerkosaan terhadap remaja wanita di beberapa lokasi. Klewang juga pentolan di situ," tutur Arief di Pekanbaru, Senin (13/5).

Klewang datang ke Pekanbaru tahun 1958 silam. Dia ikut orang tuanya, seorang anggota Brimob yang pindah tugas ke Pekanbaru. Sedangkan Bambang, anaknya sudah duluan masuk ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A, Pekanbaru. Dia ini terlibat kasus curas, perampasan dan pengrusakan.

Klewang dan geng motornya ternyata punya ritual-ritual aneh yang sulit dinalar. Berikut di antaranya:

1. Seks bebas

Polisi memeriksa anggota geng motor. Sewaktu petugas memeriksa Hp Y, petugas menemukan video porno dengan adegan sesama pelajar, anggota geng motor tersimpan di memori ponselnya. Tak hanya itu, dalam pengakuannya kepada penyidik, pelajar kelas III SMP ini, juga kerap berhubungan seks bebas sesama mereka, tak hanya sekali namun berkali-kali.

Di kantor polisi, saat ditanya penyidik, Y mengaku sudah sering berhubungan intim. "Dirinya mengakui menyerahkan keperawanannya dengan Jef, tapi ia juga melakukan hubungan intim layaknya suami istri dengan Arbi teman Jef. Udah sering, saya melakukannya kadang di bedeng dan di daerah Tarai, Kecamatan Tambang," papar Y sambil terisak.

Diceritakan Y, sebelum gengnya keliling-keliling kota biasanya ngumpul di komplek Main Stadiun Utama Riau, terkadang juga ngumpul di dekat SMA Plus Kubang. Biasanya sekitar 50-100 sepeda motor, terkadang ada Gery, Via Panger, Yogi, Robi dan Panglima lainnya, keliling-keliling ke seputar wilayah Pekanbaru untuk melakukan penyerangan.

Hen (46), orang tua Y, pada wartawan mengatakan, jika anaknya memang terlibat dalam geng motor ini, dia akan menyerahkan sepenuhnya prosesnya ke pihak polisi. "Saya tak menyangka anak saya bisa terlibat sejauh ini," ujarnya dengan wajah lesu.

Hen yang mengakau hanya seorang tukang bangunan, rela menjual sepeda motor dan lahan tanahnya demi menyekolahkan anaknya Y. "Ternyata di belakang saya tak taunya begini, malu saya mas," ungkap Hendri dengan wajah miris kepada wartawan.

Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Drs R Adang Ginanjar mengimbau para orang tua untuk mengawasi putra-putrinya di luar rumah. "Diimbau kepada orangtua agar mengontrol putra-putrinya, menyalurkan hobi anak-anaknya. Jangan anak-anak dibiarkan bergaul tanpa kontrol," kata Adang.

2. Duel sebelum jadi panglima

Seperti layaknya di film-film mafia hongkong, untuk mendapatkan kedudukan panglima geng motor, sesama anggota geng diadu hingga mendapatkan pemenangnya. Pertarungan duel tersebut dilakukan di depan Mardirianto alias anto Klewang (57) selaku ketua besar alias Jenderal Geng motor Pekanbaru.

Sehingga, beberapa anggota geng motor yang notabene anak sekolah dan remaja yang putus sekolah menjadi bringas dan brutal, mereka dikomandoi Klewang melalui panglimanya untuk melakukan pengrusakan, perampasan sepeda motor bahkan lebih parahnya memperkosa.

Demikian dikatakan Kapolresta Pekanbaru Adang Ginandjar pada Rabu (15/5) kepada wartawan, dalam struktural geng motor, ada jenjang karir yang harus dilalui. "Mereka duel antara satu dengan yang lainnya untuk menduduki jabatan panglima," ungkap Adang.

Saat ini pihak kepolisian telah menahan 4 panglima geng motor, dan 2 panglima lagi masih diburu. Termasuk anggota geng motor Sincan yang masih diburu.

3. Merampas untuk biaya operasional

Untuk biaya operasional, selain mengumpulkan uang Rp 5 ribu dari tiap anggota, tindak kriminal juga dijadikan sumber pemasukan. Salah satunya adalah dengan merampas dan menganiaya. "Hasil rampasan baik itu handphone, uang maupun kendaraan bermotor harus dilaporkan pada ketua besar," lanjutnya lagi.

Dari pemeriksaan yang dilakukan Kapolresta menjelaskan Klewang beserta tersangka lain yang saat ini diamankan mengakui tindak pidana.

Hingga saat ini, Polresta Pekanbaru paling tidak sudah mengamankan 12 orang anggota geng motor yang terlibat dalam aksi pengerusakan warnet, perampasan, dan pemerkosaan di mana termasuk di dalamnya, Klewang dan empat orang panglima. "Saat ini empat dari enam panglima sudah kita amankan, mereka adalah Re, Mr, Ar dan Ro (Robi). Umur mereka antara 16 sampai 20 tahun. Dua orang lagi panglimanya masih kita kejar, termasuk salah satunya adalah seorang residivis dan satu orang perempuan," terangnya.

Diakui Pitra, anggota geng motor sering melakukan perampokan dan perampasan. Sekali merampok bisa dapat antara Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Targetnya mahasiswa. Dari sekian banyak hasil rampokan setengahnya diberikan untuk Klewang.

4. Wajib melayani

Klewang (57) dikenal sebagai raja geng motor brutal di Pekanbaru. Setiap wanita yang masuk di kelompoknya, diwajibkan melayani nafsu bejatnya.

Kisah Klewang ini bak raja yang berkuasa. Kelompok geng motor cewek, selalu bersedia menemani Klewang bila diajak hubungan intim. Malah cewek geng motor itu sebenarnya juga punya pacar yang statusnya juga geng motor.

"Ketika Klewang mengajak kencan anggota geng motor wanita, mereka bersedia melayaninya. Tidak ada yang berani menolaknya. Hanya saja memang perempuan yang gabung di bawah binaan Klewang itu perempuan berandalan. Ada juga wanita penjaja seks yang gabung di kelompoknya," kata Kapolresta Pekanbaru, Kombes Adang Ginanjar kepada merdeka.com, Senin (13/5).

5. Berpindah-pindah

Mardirianto alias Anto Klewang ditangkap polisi pada Jumat (10/5) lalu, di tempat persembunyiannya di bekas gudang PT Waskita dalam kawasan Stadion Utama. Klewang ditangkap pada penggrebakan yang ke-31.

"Memang sulit menangkap klewang, pada penggerebekan ke-31 itu baru kita tangkap si Klewang," ujar Kapolresta Pekanbaru Adang Ginandjar.

Namun ada yang aneh dalam kasus ini, keberadaan geng motor sudah ada sejak tahun lalu (2012), tapi baru tahun 2013 ini Klewang tertangkap. Klewang yang sudah tua berusia 57 tahun itu, juga pernah terkena stroke, sehingga sulit untuk berbicara.

Namun begitu, Klewang disangkakan oleh kepolisian sebagai ketua besar geng motor di Pekanbaru, bahkan anggota geng motornya sampai ke Kabupaten Kampar, Kabupaten Bengkalis hingga ke Kabupaten Duri.

6. Ritual berjimat

Menurut cerita anggota geng motor yang lainnya, Klewang ini memiliki kekuatan magis yaitu kebal terhadap senjata karena memiliki jimat kekebalan tubuh. Jimat itu dipercaya membuat klewang sangat susah ditangkap, hal inilah yg menyebabkan Klewang sangat disegani anggota geng motor.

"Punya jimat berupa gesper dan di dompet berupa tulisan yang dibungkus kain putih," kata Kapolres Pekanbaru, Komisaris Besar Adang Ginanjar, kepada merdeka.com.

Ternyata ilmu kebal Klewang luntur di hadapan polisi, jajaran aparat Kepolisian Resort Kota Pekanbaru berhasil menangkap dan meringkus raja geng motor klewang, dan untuk itu pasal berlapis akan dikenakan kepada Klewang mulai dari pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan, kemudian 362 KUHP tentang pencurian dan 351 KUHP tentang penganiayaan, maupun UU Perlindungan Anak.

sumber : merdeka.com

Baca Juga

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...